ILMU PENDIDIKAN ISLAM
DAN PROFESI KEGURUAN
Di Buat Oleh: Budi Alamsah
(D02216003)
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prodi Pendidikan Bahasa Arab
Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya
Allah SWT
telah menciptakan semesta alam beserta isinya dari yang terkecil yang kasat
oleh mata hingga yang terlihat oleh mata. Semua itu adalah kehendaknya, Allah
menciptakan bumi dan apa yang ada di dalamnya dengan sangat sempurna, di antara
ciptaannya yang paling sempurna adalah manusia.
Manusia adalah mahluk yang sangat
menarik di bandingkan dengan mahluk yang lainnya. Manusia adalah salah satu
ciptaan Allah SWT yang memeliki peran penting dalam kehidupan di muka bumi ini.
Manusia menempati derajat yang lebih tinggi di banding mahluk yang lain bahkan
Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam Alaihi
salam.karena manusia memiliki jiwa,raga,dan fikiran. Yang di gunakan
sehari-hari.[1]
Ada beberapa uraian manusia
menurut islam diantaranya yaitu:
a.
Manusia sebagai
hamba Allah
Keberadaan manusia di muka bumi ini adalah sebagai
hamba atau bisa di sebut dengan abdi Allah. Dan tugas manusia sebagai hamba
Allah adalah mengabdi kepada Allah SWT menjalankan yang telah di terangkan
dalam Al Qur’an surat AL-baiyyinah ayat semua perintahnya dan menjahui segala
larangannya. ke 5 yang artinya:
“padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya mereka
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-nya dalam (menjalankan) agama
yang lurus. Dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.
(QS. Al baiyyinah .5).
b.
Manusia sebagai
Al-Nas
Telah di sebutkan dalam Al-qur’an manusia juga di
sebut dengan al-nas. Kata al-nas mengarah pada hakikat manusia dalam hubungannya
dengan manusia lain dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Manusia juga di
sebut mahluk sosial yang menbutuhkan bantuan orang lain. Seperti yang telah di
jelaskan dalam Al Qur’an surat (QS.An Nisa.1).
c.
Manusia sebagai
kholifah Allah
Di ciptakannya manusia di bumi ini pada hakikatnya
adalah untuk menjadi kholifah atau pemimpin serta menjadi penghuni muka bumi
ini. Seperti yang telah di jelaskan dalam Al Qur’an surat (QS.Shad 26).
d.
Manusia sebagai Bani
Adam
Di sebut sebagai Bani Adam atau keturunan Adam suapaya
tidak ada kesalah paham. Bahwasannya manusia adalah keturunan Adam bukan hasil
revolusi dari kera atau yang lainnya. Islam mengatakan bahwa manusia adalah
keturunan Adam karena untuk menghormati nilai pengetahuan dan hubungan di
masyarakat. Seperti yang telah di jelaskan dalam Al Qur’an surat (QS. Al araf
26-27).
e.
Manusia sebagai Al-insan
Manusia juga di sebut dengan Al- insan karena merujuk
pada kemampuannya dalam senguasai ilmu dan pengetahuan serta kemampuan untuk
berkomunikasi pada mahluk yang lainnya dan masih banyak lagi. Seperti yang telah di jelaskan dalam Al Qur’an
surat (QS. Al Hud 9).
d.
Manusia sebagai Mahluk Biologi (basyar)
Manusia disebut
mahluk biologi karena mempunyai raga atau fisik yang dapat melakukan aktifitas
fisik,tubuh,membutuhkan makan,berkembang baik sebagaimana ciri-ciri mahluk
hidup pada umumnya.[2]
Allah
menciptakan manusia dengan beberapa potensi. Dan Allah telah membekali
potensi-potensi itu dengan sesempurna mungkin, sehingga manusia dapat
berkembang melalui potensi masing-masing. Ada empat potensi utama yang ada di
diri manusia di antanya:
1.
Potensi Naluriyah
(emosional)
Potensi ini berasal dari dorongan diri
manusia sendiri secara sepontan, yang di peroleh tanpa melewati proses belajar
belajar. Ada tiga dorongan yang pertama dorongan insting manusia untuk kelangsungan
hidup, yang ke dua dorongan untuk mempertahankan diri sendiri dari bahaya yang
datang, yang ke tiga dorongan untuk berkembang biak menambah keturunan.
2.
Potensi Indrawi
(fisikal)
Potensi ini membahas tentang anggota tubuh
atau indra-indra yang ada pada tubuh manusia seperti indra penglihatan,pendengaran,penciuman,peraba
dan perasa. Yang telah di fungsikan melalui indra-indra yang telah ada. Dan siap
di gunakan seperti mata, telinga,hidung,kulit,otak atau saraf-safar yang lain.
3.
Potensi Akal (intelektual)
Potensi ini adalah salah satu potensi yang
sangat berpengaruh besar untuk manusia agar bisa di sebut sebagai manusia yang
sempurna. Karena Allah telah memberi manusia akal dan fikiran yang sangat
istimewa yang ada pada diri manusia masing-masing. Yang di pergunakan manusia untuk
memecahkan masalah yang ada.
4.
Potensi Agama
(spritual)
Dari awal manusian telah dibekali dengan
fitrah beragama atau kecenderungan pada agama. Yang mana akan mendorong manusia
untuk mengakui dan mengabdi kepada sesuatu yang lebih kuat dan mempunyai
kelebihan dari manusia itu sendiri.[3]
Ada beberapa pendekatan yang dapat membantu untuk proses
pengembangan dari empat potensi yang telah di sebutkan di atas antanya adalah:
1.
Pendekatan Filosofis
Pendekatan ini diciptakan untuk menimbulkan
suatu kesetiaan pengabdian kepada penciptanya. Dan pengembangan potensi ini
harus bisa menuntun manusia menjadi abdi tuhannya dari mengikuti nilai-nilai
yang benar menurut kebenaran ilahiyah yang sebenarnya.
2.
Pendekatan kronologis
Pendekatan ini memandang manusia sebagai makhluk
evolutif, manusia tumbuh dan berkembang secara bertahap. Dan setiap
pengembangan ini di tandai dengan adanya ciri khas tersendiri.serta kemampuan
manusiapun mengalami peningkatan sesuai periode pertumbuhan dan perkembangan.
3.
Pendekatan fungsional
Potensi yang ada pada manusia bisa digunakan
dan difungsikan dalam kehidupan manusia. Karena setiap sesuatu yang telah di ciptakan tuhan
pasti ada manfaatnya. Maka manusia harus melaksanakan pendekatan itu sesuai
fungsi potensi tersebut.
4.
Pendekatan sosial
Manusia dalam pendekatan ini di sebut
sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu manusia cenderung untuk hidup
berkelompok dan membutuhkan orang lain. Dan disini manusia harus bisa
mengembangkan potensinya untuk berinteraksi di lingkungannya.[4]
Manusia tidak bisa lepas dari yang namanya kebutuhan, kebutuhan
primer atau sekunder keduanya salah satunya harus bisa penuhi. Untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari manusia memerlukan penghasilan yang cukup. Untuk mendapatkan
suatu penghasilan pasti memerlupan suatu pekerjaan atau kita bisa sebut dengan
profesi. Mengenai prosefi sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita dari
berita atau surat kabar maupun dari percakapan orang yang ada di sekitar kita. Marikita
pelajari apa itu profesi ?...
Profesi adalah bidang pekerjaan
yang mentut sebuah keahlian dan keterampilan yang tertentu yang telah di akui
oleh banyak orang. Dalam pengertian profesi ada dua istilah yaitu secara etimologis
dan terminologi. Secara etimologi profesi di ambil dari bahasa inggris yaitu
profession atau dalam bahasa latin juga di sebut dengan profecus yang mempunyai
arti mengakui, adanya pengakuan dan menyatakan mampu dalam suatu bidang atau
keahlian dalam melakukan suatu pekerjaan. Dan secara termonologi adalah suatu
pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan
pada pekerjaan mental seperti adanya pernyataan pengetahuan teoritis.
Dalam profesi terdapat beberapa syarat yang harus di tempuh
di antaranya yaitu:
1.
Panggilan hidup yang
sepenuh waktu
2.
Pengetahuan atau kecakapan
dan keahlian
3.
Kebakuan yang universal
4.
Pengabdian
5.
Kecakapan diagnostik dan
kompetensi aplikatif
6.
Otonimi
7.
Kode etik
8.
Klien
9.
Berprilaku pamong
Tingkatan dalam profesi
Tidak semua pekerjan menuntut tingkat profesional
tertentu, keragaman kemampuan ditinjau
dari tingkat keprofisionalan yang ada diperlukan karena di masyarakat terdapat
berbagai pekerjaan yang katagorinya juga berbeda di antaranya:
1. profesi yang sudah mapan (older professions )
2. profesi baru ( newer professions )
3. profesi yang sedang tumbuh kembang ( emergent professions )
4. semiprofesi (semiprofessions )
5. tugas jabatan atau pekerjaan yang belum jelas arah tuntutan status
keprofesiannya ( occupations that lay unrecognized claim to professional status
)[6]
Dalam suatu profesi pasti ada
peraturan atau undang-undang nya apa lagi dalam profesi keguruan. Semua peraturan
atau sistem pendidikan nasional di atur pada UU No.20 Th 2003 Tentang SISDIKNAS,
UU No. 14/2005 Tentang Guru dan Dosen. Dan PP 74/2008 Tentang Guru. Dengan adanya
peraturan atau undang-undang ini tidak perlu ada kekawatiran lagi tentang
sistem pendidikan di negara ini jika terdapan suatu kejanggalan yang tidak di
inginkan. Karena telah di cantumkan dengan jelas pada undang-undang tersebut.[7]
Pada profesi keguruan ada tiga
syarat yang harus di tempuh agar guru itu bisa di katakan sebagai guru yang
profesional yaitu yang pertama harus memenuhi standart kualifikasi, standart
kompetensi dan mempunyai sertifikat pendidik profesional. Kompetensi guru
diukur berdasarkan penguasaannya dalam perancangan pembelajaran. yang berkaitan
dengan mata pelajaran dan bahan yang di ajarkan.serta diukur berdasarkan
profesionalisme keguruan dan kemampuannya dalam penguasaan mata pelajaran yang
akan di ajarkan.[8]
Adapun contoh pada Guru Bahasa Arab adalah mempunyai ke
ahlian di bidang kebahasaan dan minimal lulus dari perguruan tinggal pada Prodi
Bahasa Arab dan menyandang gelar (S1). Serta bisa menguasai semua materi
kebahasaan dan mampu menerapkan cara pembelajaran yang sudah di dapatkan selama
belajarnya dengan sistem pembelajaran yang baik dan bisa menjadi pendorong
untuk siswanya.
Tidak hanya itu guru yang
profesional juga harus memiliki softskills yang sangat baik yang mencakup dua
hal yang pertama intrapersonal skills dan interpersonal skills. Di antara beberapa contoh yang ada pada
intrapersonal skills adalah mempunyai watak yang jujur,tanggung jawab,
toleransi, bisa menghargai orang lain, kemampuan kerja sama,adil, berani
mengambil keputusan dan lain-lain. Adapun contoh dari interpersonal skills
adalah terampil bernegoasi,presentasi,bisa melakukan mediasi,
berkepimpinan,berkomunikasi dengan pihak lain.[9]
Pada profesi keguruan butuh yang namanya pengembangan watak guru supaya menjadi teladan
dan model bagi para peserta didiknya mohammad surya telah merujuk pada pendapat
Hermawan Kertajaya yang memetapkan model pengembangan profesionalitas pada pola
“ growt with character” yang artinya adalah sebuah pengembangan profesionalitas
yang berbasis karakter. Dan pengembangan ini dapat di dinamiskan pada tiga
unsur utama karakter yaitu: keunggulan (excellence), kemampuan kuat (passion)
pada profesionalisme, dan etika (ethical).[10]
Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk upaya
mengembangkan dan meningkatkan profesionalitas guru antara lain adalah:
1.
Melalui pelaksanaan
tugas
Pengembangan kompetensi melalui pelaksanaan tugas pada dasarnya merupakan
upaya menterpadukan antara potensi profesional dengan pelaksanaan tugas-tugas
terpadu.
2.
Melalui respon
Peningkatan kompetensi melalui respons dilakukan dalam bentuk suatu
interaksi secara formal dan informal yang biasanya dilakukan melalui berbagai
interaksi seperti pendidikan dan latihan,seminar,lokakarya,ceramah dan
forum-forum lainnya.
3.
Melalui penelusuran
dan perkembangan diri
Pada dasarnya peningkatan kopetensi akan sangat tergantung pada kualitas
pribadi masing-masing.
4.
Melalui dukungan
sistem
Berkembangnya kompetensi guru akan banyak tergantung pada kondisi sistem
dimana guru bertugas.[11]
Dalam pengembangan
profesionalitas guru terdapat kode etik yang harus di tegakkan. Isi kode etik
guru di indonesia mencakup dua hal yaitu preambul sebagai pernyataan prinsip
dasar pandangan terhadap posisi,tugas, dan tanggung jawab guru,dan
pernyataan-pernyataan yang berupa rujukan teknis oprasional yang ada pada
sembilan butir batang tubuhnya.
Dan kode
etik ini sangat penting karena kode etik merupakan tatanan yang menjadi pedoman
dalam menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi.[12]
[1] https://dalamislam.com/info-islami/hakikat-manusia-menurut-islam
[2] https://dalamislam.com/info-islami/hakikat-manusia-menurut-islam
[3] Siti
khasinah, “Hakikat manusia menurut pandangan islam dan barat”, dalam jurnal
ilmiah DIDAKTIKA Februari 2013 VOL. XIII, NO.2 hal: 310-312
[4] Ali
mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet.
Ke-3, hal. 1-2
[5] Ali
mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet.
Ke-3, hal. 7
[6] Ali
mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet.
Ke-3, hal. 19-20
[7] Ali
mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet.
Ke-3, hal. 35
[9] Ali
mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet.
Ke-3, hal 154
[10] Ali
mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet.
Ke-3, hal.129
[11] Ali
mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet.
Ke-3, hal.132-134
[12] Ali
mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet.
Ke-3, hal.206-207