Home » , , , » ILMU PENDIDIKAN ISLAM DAN PROFESI KEGURUAN

ILMU PENDIDIKAN ISLAM DAN PROFESI KEGURUAN

Posted by Unknown
Artikel Pendidikan Profesi Keguruan, Updated at: 11/22/2017 06:43:00 AM

Posted by Unknown on Rabu, 22 November 2017

ILMU PENDIDIKAN ISLAM DAN PROFESI KEGURUAN

Di Buat Oleh: Budi Alamsah (D02216003)
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya



Allah SWT telah menciptakan semesta alam beserta isinya dari yang terkecil yang kasat oleh mata hingga yang terlihat oleh mata. Semua itu adalah kehendaknya, Allah menciptakan bumi dan apa yang ada di dalamnya dengan sangat sempurna, di antara ciptaannya yang paling sempurna adalah manusia.
Manusia adalah mahluk yang sangat menarik di bandingkan dengan mahluk yang lainnya. Manusia adalah salah satu ciptaan Allah SWT yang memeliki peran penting dalam kehidupan di muka bumi ini. Manusia menempati derajat yang lebih tinggi di banding mahluk yang lain bahkan Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam Alaihi salam.karena manusia memiliki jiwa,raga,dan fikiran. Yang di gunakan sehari-hari.[1]
Ada beberapa uraian manusia menurut islam diantaranya yaitu:
a.      Manusia sebagai hamba Allah
Keberadaan manusia di muka bumi ini adalah sebagai hamba atau bisa di sebut dengan abdi Allah. Dan tugas manusia sebagai hamba Allah adalah mengabdi kepada Allah SWT menjalankan yang telah di terangkan dalam Al Qur’an surat AL-baiyyinah ayat semua perintahnya dan menjahui segala larangannya. ke 5 yang artinya:
padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. Dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan  yang demikian itulah agama yang lurus.
(QS. Al baiyyinah .5).
b.      Manusia sebagai Al-Nas
Telah di sebutkan dalam Al-qur’an manusia juga di sebut dengan al-nas. Kata al-nas mengarah pada hakikat manusia dalam hubungannya dengan manusia lain dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Manusia juga di sebut mahluk sosial yang menbutuhkan bantuan orang lain. Seperti yang telah di jelaskan dalam Al Qur’an surat (QS.An Nisa.1).
c.       Manusia sebagai kholifah Allah
Di ciptakannya manusia di bumi ini pada hakikatnya adalah untuk menjadi kholifah atau pemimpin serta menjadi penghuni muka bumi ini. Seperti yang telah di jelaskan dalam Al Qur’an surat (QS.Shad 26).
d.      Manusia sebagai Bani Adam
Di sebut sebagai Bani Adam atau keturunan Adam suapaya tidak ada kesalah paham. Bahwasannya manusia adalah keturunan Adam bukan hasil revolusi dari kera atau yang lainnya. Islam mengatakan bahwa manusia adalah keturunan Adam karena untuk menghormati nilai pengetahuan dan hubungan di masyarakat. Seperti yang telah di jelaskan dalam Al Qur’an surat (QS. Al araf 26-27).
e.       Manusia sebagai Al-insan
Manusia juga di sebut dengan Al- insan karena merujuk pada kemampuannya dalam senguasai ilmu dan pengetahuan serta kemampuan untuk berkomunikasi pada mahluk yang lainnya dan masih banyak lagi.  Seperti yang telah di jelaskan dalam Al Qur’an surat (QS. Al Hud 9).
d.   Manusia sebagai Mahluk Biologi (basyar)
Manusia disebut mahluk biologi karena mempunyai raga atau fisik yang dapat melakukan aktifitas fisik,tubuh,membutuhkan makan,berkembang baik sebagaimana ciri-ciri mahluk hidup pada umumnya.[2]

Allah menciptakan manusia dengan beberapa potensi. Dan Allah telah membekali potensi-potensi itu dengan sesempurna mungkin, sehingga manusia dapat berkembang melalui potensi masing-masing. Ada empat potensi utama yang ada di diri manusia di antanya:
1.      Potensi Naluriyah (emosional)
Potensi ini berasal dari dorongan diri manusia sendiri secara sepontan, yang di peroleh tanpa melewati proses belajar belajar. Ada tiga dorongan yang pertama dorongan insting manusia untuk kelangsungan hidup, yang ke dua dorongan untuk mempertahankan diri sendiri dari bahaya yang datang, yang ke tiga dorongan untuk berkembang biak menambah keturunan.
2.      Potensi Indrawi (fisikal)
Potensi ini membahas tentang anggota tubuh atau indra-indra yang ada pada tubuh manusia seperti indra penglihatan,pendengaran,penciuman,peraba dan perasa. Yang telah di fungsikan melalui indra-indra yang telah ada. Dan siap di gunakan seperti mata, telinga,hidung,kulit,otak atau saraf-safar yang lain.
3.      Potensi Akal  (intelektual)
Potensi ini adalah salah satu potensi yang sangat berpengaruh besar untuk manusia agar bisa di sebut sebagai manusia yang sempurna. Karena Allah telah memberi manusia akal dan fikiran yang sangat istimewa yang ada pada diri manusia masing-masing. Yang di pergunakan manusia untuk memecahkan masalah yang ada.
4.      Potensi Agama (spritual)
Dari awal manusian telah dibekali dengan fitrah beragama atau kecenderungan pada agama. Yang mana akan mendorong manusia untuk mengakui dan mengabdi kepada sesuatu yang lebih kuat dan mempunyai kelebihan dari manusia itu sendiri.[3]

Ada beberapa pendekatan yang dapat membantu untuk proses pengembangan dari empat potensi yang telah di sebutkan di atas antanya adalah:
1.      Pendekatan Filosofis
Pendekatan ini diciptakan untuk menimbulkan suatu kesetiaan pengabdian kepada penciptanya. Dan pengembangan potensi ini harus bisa menuntun manusia menjadi abdi tuhannya dari mengikuti nilai-nilai yang benar menurut kebenaran ilahiyah yang sebenarnya.  
2.      Pendekatan kronologis
Pendekatan ini memandang manusia sebagai makhluk evolutif, manusia tumbuh dan berkembang secara bertahap. Dan setiap pengembangan ini di tandai dengan adanya ciri khas tersendiri.serta kemampuan manusiapun mengalami peningkatan sesuai periode pertumbuhan dan perkembangan.
3.      Pendekatan fungsional
Potensi yang ada pada manusia bisa digunakan dan difungsikan dalam kehidupan manusia. Karena  setiap sesuatu yang telah di ciptakan tuhan pasti ada manfaatnya. Maka manusia harus melaksanakan pendekatan itu sesuai fungsi potensi tersebut.
4.      Pendekatan sosial
Manusia dalam pendekatan ini di sebut sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu manusia cenderung untuk hidup berkelompok dan membutuhkan orang lain. Dan disini manusia harus bisa mengembangkan potensinya untuk berinteraksi di lingkungannya.[4]

Manusia tidak bisa lepas dari yang namanya kebutuhan, kebutuhan primer atau sekunder keduanya salah satunya harus bisa penuhi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari manusia memerlukan penghasilan yang cukup. Untuk mendapatkan suatu penghasilan pasti memerlupan suatu pekerjaan atau kita bisa sebut dengan profesi. Mengenai prosefi sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita dari berita atau surat kabar maupun dari percakapan orang yang ada di sekitar kita. Marikita pelajari apa itu profesi ?...
Profesi adalah bidang pekerjaan yang mentut sebuah keahlian dan keterampilan yang tertentu yang telah di akui oleh banyak orang. Dalam pengertian profesi ada dua istilah yaitu secara etimologis dan terminologi. Secara etimologi profesi di ambil dari bahasa inggris yaitu profession atau dalam bahasa latin juga di sebut dengan profecus yang mempunyai arti mengakui, adanya pengakuan dan menyatakan mampu dalam suatu bidang atau keahlian dalam melakukan suatu pekerjaan. Dan secara termonologi adalah suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental seperti adanya pernyataan pengetahuan  teoritis.
Dalam profesi terdapat beberapa syarat yang harus di tempuh di antaranya yaitu:
1.      Panggilan hidup yang sepenuh waktu
2.      Pengetahuan atau kecakapan dan keahlian
3.      Kebakuan yang universal
4.      Pengabdian
5.      Kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif
6.      Otonimi
7.      Kode etik
8.      Klien
9.      Berprilaku pamong
10.  Bertanggung jawab,(Syafridin Nurdin,2005:14-15)[5]

Tingkatan dalam profesi
Tidak semua pekerjan menuntut tingkat profesional tertentu,  keragaman kemampuan ditinjau dari tingkat keprofisionalan yang ada diperlukan karena di masyarakat terdapat berbagai pekerjaan yang katagorinya juga berbeda di antaranya:
1. profesi yang sudah mapan (older professions )
2. profesi baru ( newer professions )
3. profesi yang sedang tumbuh kembang ( emergent professions )
4. semiprofesi (semiprofessions )
5. tugas jabatan atau pekerjaan yang belum jelas arah tuntutan status keprofesiannya ( occupations that lay unrecognized claim to professional status )[6]

Dalam suatu profesi pasti ada peraturan atau undang-undang nya apa lagi dalam profesi keguruan. Semua peraturan atau sistem pendidikan nasional di atur pada UU No.20 Th 2003 Tentang SISDIKNAS, UU No. 14/2005 Tentang Guru dan Dosen. Dan PP 74/2008 Tentang Guru. Dengan adanya peraturan atau undang-undang ini tidak perlu ada kekawatiran lagi tentang sistem pendidikan di negara ini jika terdapan suatu kejanggalan yang tidak di inginkan. Karena telah di cantumkan dengan jelas pada undang-undang tersebut.[7]
Pada profesi keguruan ada tiga syarat yang harus di tempuh agar guru itu bisa di katakan sebagai guru yang profesional yaitu yang pertama harus memenuhi standart kualifikasi, standart kompetensi dan mempunyai sertifikat pendidik profesional. Kompetensi guru diukur berdasarkan penguasaannya dalam perancangan pembelajaran. yang berkaitan dengan mata pelajaran dan bahan yang di ajarkan.serta diukur berdasarkan profesionalisme keguruan dan kemampuannya dalam penguasaan mata pelajaran yang akan di ajarkan.[8]
Adapun contoh pada Guru Bahasa Arab adalah mempunyai ke ahlian di bidang kebahasaan dan minimal lulus dari perguruan tinggal pada Prodi Bahasa Arab dan menyandang gelar (S1). Serta bisa menguasai semua materi kebahasaan dan mampu menerapkan cara pembelajaran yang sudah di dapatkan selama belajarnya dengan sistem pembelajaran yang baik dan bisa menjadi pendorong untuk siswanya.
Tidak hanya itu guru yang profesional juga harus memiliki softskills yang sangat baik yang mencakup dua hal yang pertama intrapersonal skills dan interpersonal skills.  Di antara beberapa contoh yang ada pada intrapersonal skills adalah mempunyai watak yang jujur,tanggung jawab, toleransi, bisa menghargai orang lain, kemampuan kerja sama,adil, berani mengambil keputusan dan lain-lain. Adapun contoh dari interpersonal skills adalah terampil bernegoasi,presentasi,bisa melakukan mediasi, berkepimpinan,berkomunikasi dengan pihak lain.[9]
Pada  profesi keguruan butuh yang namanya pengembangan watak guru supaya menjadi teladan dan model bagi para peserta didiknya mohammad surya telah merujuk pada pendapat Hermawan Kertajaya yang memetapkan model pengembangan profesionalitas pada pola “ growt with character” yang artinya adalah sebuah pengembangan profesionalitas yang berbasis karakter. Dan pengembangan ini dapat di dinamiskan pada tiga unsur utama karakter yaitu: keunggulan (excellence), kemampuan kuat (passion) pada profesionalisme, dan etika (ethical).[10]

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk upaya mengembangkan dan meningkatkan profesionalitas guru antara lain adalah:
1.      Melalui pelaksanaan tugas
Pengembangan kompetensi melalui pelaksanaan tugas pada dasarnya merupakan upaya menterpadukan antara potensi profesional dengan pelaksanaan tugas-tugas terpadu.
2.      Melalui respon
Peningkatan kompetensi melalui respons dilakukan dalam bentuk suatu interaksi secara formal dan informal yang biasanya dilakukan melalui berbagai interaksi seperti pendidikan dan latihan,seminar,lokakarya,ceramah dan forum-forum lainnya.
3.      Melalui penelusuran dan perkembangan diri
Pada dasarnya peningkatan kopetensi akan sangat tergantung pada kualitas pribadi masing-masing.
4.      Melalui dukungan sistem
Berkembangnya kompetensi guru akan banyak tergantung pada kondisi sistem dimana guru bertugas.[11]

Dalam pengembangan profesionalitas guru terdapat kode etik yang harus di tegakkan. Isi kode etik guru di indonesia mencakup dua hal yaitu preambul sebagai pernyataan prinsip dasar pandangan terhadap posisi,tugas, dan tanggung jawab guru,dan pernyataan-pernyataan yang berupa rujukan teknis oprasional yang ada pada sembilan butir batang tubuhnya.
Dan kode etik ini sangat penting karena kode etik merupakan tatanan yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi.[12]






[1] https://dalamislam.com/info-islami/hakikat-manusia-menurut-islam
[2] https://dalamislam.com/info-islami/hakikat-manusia-menurut-islam
[3] Siti khasinah, “Hakikat manusia menurut pandangan islam dan barat”, dalam jurnal ilmiah DIDAKTIKA Februari 2013 VOL. XIII, NO.2 hal: 310-312
[4] Ali mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet. Ke-3, hal. 1-2
[5] Ali mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet. Ke-3, hal. 7
[6] Ali mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet. Ke-3, hal. 19-20
[7] Ali mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet. Ke-3, hal. 35
[9] Ali mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet. Ke-3, hal 154
[10] Ali mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet. Ke-3, hal.129
[11] Ali mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet. Ke-3, hal.132-134
[12] Ali mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet. Ke-3, hal.206-207 

Share This Post :
 
Copyright © 2017 Artikel Pendidikan Profesi Keguruan. All Rights Reserved
Template Johny Wuss Responsive by Creating Website and CB Design