UJIAN TENGAH SEMESTER
FTK UIN SUNAN AMPEL SURABAYA SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2017-2018
Program Studi PBA Matakuliah Ilmu Pendidikan Islam dan Profesi Pendidikan
Oleh : Khoirotun Nisa (D92216035)
Dalam pandangan Islam dalam mengkaji pengertian tentang
manusia dibagi menjadi tiga sebagai berikut :
1. Al Insan
Kata al – insanberasaldari kata al – uns yang tersebutsebanyak 65
kali dantersebardalam 43 suratdalam al – qur’an
ciri-ciri manusia yang dikategorikan dalam Al Insan antara lain : menggunakan
psikologis, spiritual, Batiniyah, Mental, Emosional, dan Ruhaniyah.
2. Al Basyar
Secara etimologi basyar berarti kulit kepala,
wajah atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut, kata al – basyar ini
ditunjukkan kepada semua umat manusia tanpa terkecuali nabi serta rasul, hal
ini menunjukkan pesamaan antara manusia dan makhluk Allah lainnya
ciri-ciri manusia yang dikategorikan dalam Al Basyar antara lain : Fisik,
Biologis, Material, Motorik, dan Jasmaniyah.
3. An Nash
kata an – naasadalahjamakdari kata al – insandandalam al –
qur’anjelasmenyebutbahwa an – naasmenunjukkanjenisketurunan Adam,
ciri-ciri manusia yang dikategorikan dalam An Nash antara lain : merupakan
makhluk sosial, Interdependensi, Interelasi, Interkomunikasi, dan Ijtimaiyah.[1]
manusia
memiliki potensi diri yang dapat dikembangkan dalam masa hidup nya,menurut
pandangan islam potensidirimanusiaadaempat,
yaituakal, hati, nafsudanruh berikut rinciannya:
1.
Akal
a.
Secarajasmaniyyahada di otak
b.
Berdayaintelektual
c.
Bersifatrasional
d.
Berkedudukanpadaalamsadar
e.
Apabilamendominasimakaakanterjadijiwa yang labil
2.
Hati
a.
Secarajasmaniyyahada di jantung
b.
Didominasioleh rasa
c.
Bersifat spiritual
d.
Berkedudukanpadaalam super sadarataudasarmanusia
e.
Mengikutiruhketuhanan
f.
Apabilamendominasimakaakanterjadikepribadian yang tenang
3.
Nafsu
a.
Secarajasmaniyahterdapat di perutdanalatkelamin
b.
Mengikutikemauanhawaniyyahbaik yang jinakataupunbuas
c.
Bersifatindrawi yang empiris
d.
Kedudukannyaadapadaalampraataubawahsadar
e.
Apabilamendominasimakaakanterwujudnafsulammarah
4.
Ruh
a.
Adanya di alamarwah
b.
Tidakmemilikibentukkadarsertasifat
c.
Tidakterikatolehruangdanwaktu
d.
Eksistensinyatertujupadaibadah
e.
Subtansinyaabaditanpakematian[2]
Teori
perkembangan manusia menurut pendidikan barat dan pendidikan timur. menurut
pendidikan barat dikatakanbahwaperkembanganmanusiadipengaruhioelhpembawaan
( nativisme ). Sebagailawannyaberkembang pula teori yang
yangmengajarkanbahwapekembanganseseorangditentukanolehlingkungan( empirisme ).
Sebagaisintesanyadikembangkanteoriketiga yang
mengatakanbahwaperkembanganseseorangituditentukanolehpembawaandanlingkungannya(konvergensi
), menurutislamkonvergensiinilah yang mendekatikebenaran. [3]
Sedangkan
menurut pendidikan timur dijelaskan, dari Aswad bin Murobba’ “ sesungguhnya
nabi SAW bersabda setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci sampai dia
mengucapkan ( sesuatu ) yang bisa mengubah kesuciaannya, karena bapak – ibu (
orang tua ) nya lah yang menjadikan anak itu yahudi, nasrani ataupun majusi (
HR. AbuYa’la, Tabrani dan Albaihaqi ). Menurut hadist ini manusia membawa
kemampuan – kemampuan, kemampuan inilah yang disebut pembawaan, fitrah yang
disebut dalam hadist itu adalah potensi, potensi adalah kemampuan. Jadi, fitrah
yang dimaksud disini adalah pembawaan sedangkan ayah ibu adalah lingkungan sebagaimana yang
dimaksud oleh para ahli pendidikan. Keduanyainilah
yang menentukanperkembanganseseeorang[4]
Dari potensi yang dimuliki manusia maka
manusia dapat mengembangkannya menjadi sebuah profesi bidang pekerjaan dalam
masa hidupnya, secaraetimologisprofesiberasaldari
kata profession yang berartipekerjaan,
sedangkanmenurutterminologisprofesiadalahsuatujabatanataupekerjaan yang
menuntutkeahlian (experties) dariparaanggotanya.[5]
Syarat-syaratprofesimenurutSyafrudinNurdinmempunyaisebagai mana yang telah kutip oleh Dr. Ali
Mudlofir, M.Ag dalam bukunya yang berjudul Pendidik Profesional menyatakan bahwa ada delapankriteria yang
harusdipenuhisehinggadapatdikatakansebagaiprofesi, diantaranya :
1.
panggilanhidup yang sepenuhwaktu
2.
pengetahuandankecakapanataukeahlian
3.
kebakuan yang universal
4.
pengabdian
5.
kecakapandiagnostikdankompetensiaplikatif
6.
otonom
7.
kodeetik
8.
klien
9.
berperilakupamong
10. bertanggungjawab
(Syafrudin Nurdin,2005: 14-15)[6]
Tingkatanprofesimenurut
(Richy 1974) terdapat lima tingkatandiantaranya
1.
older profession (profesi yang telahmapan)
2.
newer profession (profesibaru)
3.
emergent profession (profesi yang sedangtumbuhkembang)
4.
semiprofessions (semiprofesi)
5.
occupations that lay unrecognized claim to professional status
(tugasjabatanataupekerjaa yang belumjelasarahtuntutan status keprofesiannya).[7]
Salah satu contoh profesi ialah profesi
keguruan yang diatur dalam Undang-Undang. diantaranya : UU Nomor 14 Tahun 2005
tentang guru dan dosen, Permediknas Nomor 16 Tahun 2007, Peraturan Pemerintah
Nomor 74 Tahun 2008, dan Permenag Nomor 16/2010 tentang semua guru di Indonesia
minimal harus berkualifikasi akademik D-IV atau S-1 Program studi yang sesuai
dengan bidang/jenis mata pelajaran yang dibinanya. peraturan-peraturan yang
telah tercantum dalam Undang-Undang tersebut mengatur kinerja para guru
sehingga dengan adanya peraturan tersebut para guru diharapkan dapat mencapai
derajat kriteria profesional sesuai standar yang telah ditentukan.[8]
Guru profesional harus memenuhi beberapa
standar, seperti : standar kualifikas, Standar kompetensi serta Sertifikasi,
contoh guru bahasa arab yang telah memenuhi standar Kompetensi adalah seorang
guru yang memiliki visi damn misi yang jelas dalam mengajarkan Bahasa Arab,
kemudian guru tersebut harus bisa menguasai semua bidang mapel Bahasa Arab,
mempunyai taktik dan keterampilan serta beberapa metode yang digunakan untuk
menyampaikan pembelajaran kepada anak didiknya, dapat memahami tentang
ketentuan kelayakan normatif dari proses pendidikan yang dijalankan yang dapat
ditoleransi serta kriteria keberhasilan yang akan diperoleh dari apa yang telah
dilakukan, memeiliki daya motivasi dan aspirasi unggulan dalam menjlankan tugas
mengajarkan Bahasa Aranb, memiliki kewenangan yang memancar atas penguasaan
perangkat kompetensinya.
Selain standar keprofesionalitas harus
dipenuhi, guru profesional juga harus memiliki soft skill yang bagus, diantara
soft skill yang harus ada dalam pribadi seorang guru adalah :
1. guru harus bertindak sesuai dengan norma
agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
2. menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur,
berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
3. menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap,
stabil, dewasa, arif, dan berwibawa,
4. menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang
tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri, serta mampu menjunjung tinggi kode etik
profesi guru.[9]
hal-hal yang telah disebutkan diatas menjadi
acuan bagi seseorang yang berprofesi sebagai Guru.
Dalammengembangkanprofesi
guru adasalahsatu model pengembangan yang bisadigunakanyaitu “Growth with
character”, Mohammad Surya
denganmerujukpadapendapatHermawanKertajayamenguemukakan model
pengembanganprofesionalitasdenganpola “Growth with character”( Mohammad
Surya, dkk, 2010:81) yaitupengembanganprofesionalitas yang
berbasiskarakter.sebagaimana yang dikutipoleh Dr.Ali Mudhofir, M.Ag.
dalambukunya yang berjudulPendidik Professional, dalambukutersebutdijelaskanbahwasanyadalammenggunakan
model “Growth with character”gunamengembangkanprofesionalitasdapatmenggabungkantigapilarutamakarakteryaitu
: keunggulan(excellence), kemauankuat(passion)
padaprofessionalisme, danetika(ethical).[10]
sedangkanstrategi
yang dapatdilakukanuntukmengembangkandanmeningkatkanprofesionalitas guru antara
lain :
1.
MelaluipelaksanaanTugas
metodepemberiantugas
yang
dimaksudadalahcarauntukmeningkatkanpotensiprofesionalsertapelaksanaantugas-tugaspokok
yang diberikan, metodeinidapatdilakukandengancaramembuat program kerjakelompok,
diskusikelompok, sertamelaksanakantugasdantanggungjawab yang
diberikandenganbaikdanbenar.
2.
MelaluiRespon
kegiatanpeningkatanprofesionalitasmelaluiresponmerupakanupaya
yang dilakukandengancarainteraksisecaralangusungbaikbersifat formal maupun non
formal contohnya Seminar, Konsultasifserta forum-forum lainnya.
3.
Melaluipenelusurandanpengembangandiri
peningkatanprofesionalitasdalamtahapinidilakukandengancara
proses penggalianpotensipribadi yang dimilikisetiap guru, yang
kemudiandikembanganmenjadihallebihkompeten.
4.
Melaluidukungansistem
saranadanprasarana
yang memadaisertalingkungankerja yang
kondusifmerupakanpenunjangtercapainyapeningkatanprofesionalitas guru yang harus
di sediakanolehsetiaplembaga. [11]
Untuk mengembangakan profesionalitas guru
sebagaimanan yang telah diuraikan diatas, maka kode etik guru harus ditegakkan,
adapun isikodeetik guru
sebagaiberikut :
1. Guru
berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan
yang ber-Pancasila.
2. Guru
memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan
kebutuhan anak didik masing-masing.
3. Guru
mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik,
tetapi menghindari diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4. Guru
menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua
murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
5. Guru
memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun
masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6. Guru
secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan
meningkatkan mutu profesinya.
7. Guru
menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan
lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
8. Guru
secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru
profesional sebagai sarana pengabdiannya.
9. Guru
melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijakan pemerintah dalam bidang
pendidikan.[12]
kode etik guru sangat penting untuk ditegakkan
karena kode etik merupakan tatanan/tanda/norma yang menjadi pedoman dalam
menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi yang harus di ikuti dan ditaati
oleh setiap orang yang menjalankan profesi tersebut.
[1]Zuhairini,
dkk. 1995, FilsafatPendidikan Islam, BumiAksara : Jakarta. Hal : 74
[2]SamsulNizar,
2001, PengantarDasar – DasarPemikiranPendidikan Islam, Gaya Media
Pratama : Jakarta, hal : 135 - 138
[3]NgalimPurwanto, PsikologiPendidikan, Bandung : RemajaRosdaKarya,
1992, hal : 14 - 15
[4]
Ahmad Tafsir, IlmuPendidikandalamPrespektif Islam, Bandung :
RemajaRosydakarya, 1991, hal : 35
[6]ibid hal :7
[7]ibid hal : 19
[8]ibid hal : 66
[9]ibid hal : 152
[10]ibid hal : 129
[11]ibid hal : 131
[12]ibid hal 208